Jumat, 10 Juli 2009

ikan cupang hias



cupang hias

Di sentra ikan hias, tampilan cupang hias (Betta sp) cukup menarik perhatian. Barangkali karena warnanya yang menarik. Dan belakangan ini satwa air ini sedang naik daun. Mungkin inilah satu-satunya ikan yang memiliki situs di internet terbanyak, yakni 27 buah. Penggemarnya pun tidak terbatas dari kelas gedongan saja, namun juga kaum pinggiran, mulai anak-anak hingga kakek-kakek. Di mana-mana orang mengoleksi dan berburu jenis (warna) baru. Jika sudah begini jadinya, persoalan harga biasanya tidak masalah lagi. Apalagi kontes ikan ini kerap digelar di kota-kota besar oleh para penggemarnya. Bagi pemilik cupang yang memenangkan kontes, otomatis akan menaikkan gengsi sang pemiliknya dan mendongkrak harga jualnya. Keturunannya (anak cupang) juga bakal laku di pasaran dan untung sudah di depan mata.Cupang ini, khususnya yang jantan mempunyai bentuk tubuh yang langsing, proporsional, sirip yang panjang, dan warna yang lebih mengkilat. Oleh sebab itu tidak heran bila banyak yang ”jatuh cinta”.

Yang menjadi ciri khas ikan ini adalah ia paling suka memamerkan keindahan ekornya. Apalagi jika di dalam akuarium atau toples ditaruh betina, maka serta merta ekornya mengembang indah. Sembari berenang ke sana sini, jantannya mendekati lawan jenisnya seperti merayu. Warna sisiknya menjadi cemerlang dan indah. Atau jika toplesnya didekatkan dengan toples berisi cupang jantan lain, mereka pun saling mengembangkan ekornya, seakan ingin menyerang. Semakin ikan itu agresif, maka semakin bagus.Aspek lain yang menarik dari fenomena cupang saat ini, mungkin daya jualnya yang lumayan tinggi. Cupang dengan ukuran kurang lebih 8 cm bisa mencapai ratusan ribu rupiah, bahkan jutaan rupiah.

Ini amat berbeda dengan kondisi ketika sepuluh tahun lalu. Apalagi fenomena ini didukung adanya usaha yang terus-menerus dari pakar dan hobiis cupang untuk melakukan kawin silang agar didapat keturunan baru (strain), yang diharapkan bakal memiliki kelebihan-kelebihan baru ketimbang induknya.Walhasil tiap tahun ada saja varietas baru yang muncul. Jelas ini banyak segi positifnya. Pertama, pasar tidak menjadi jenuh karena jenisnya tidak hanya itu-itu saja. Yang kedua, harga cupang malah semakin menjulang. Karena para penggemar yang fanatik dan suka berkontes itu tentu akan mencari cupang yang bermutu. Sementara jenis cupang yang ”ketinggalan zaman” akan tenggelam.Ada kebiasaan yang dilakukan jika usai kontes. Cupang yang menjuarai kontes akan dilelang.

Menurut sebagian besar penggemar, ini sangat baik. Sebab secara tidak langsung menciptakan harga standar bagi yang juara dan yang bukan. Semakin aneh dan indah, maka nilainya menjadi tinggi. Lelang bagi penggemar adalah saat yang ditunggu-tunggu.Fenomena lain yang menarik perhatian adalah telah berkembang usaha budidaya cupang yang berorientasi pasar. Para peternak saling berlomba untuk menciptakan strain baru dengan berbagai variasi warna, pola sirip dan bentuk badan. Makin unik cupang yang dihasilkan maka nama peternaknya ikut terangkat.

Sebab boleh jadi bakal-bakal juara telah dilahirkan di situ.Asal-usulIkan ini, menurut data, telah dikenal dan dipelihara sebagian masyarakat kita sejak tahun 1960-an. Kala itu harganya masih murah dan pamornya sama dengan ikan hias lain. Variasi sirip dan warna saat itu belumlah semeriah dan seelok seperti sekarang. Begitu juga penggemarnya belum banyak dari kalangan gedongan.Perubahan terjadi ketika tahun 1970 para importir memasukkan jenis cupang yang baru. Jenis yang masuk ada yang bersirip pendek dan panjang. Sirip pendek akhirnya dikenal sebagai cupang laga (aduan), dan yang bersirip panjang (slayer), sebagai cupang hias.

Kedua macam cupang ini sama-sama agresif, namun yang berjenis panjang, lebih bisa dinikmati karena keindahan ekornya. Mungkin kalau sampai diadu, ekor yang indah itu akan rusak.Kehebatan cupang ini adalah ia memiliki labirin yang membuatnya bisa bertahan hidup di air yang kadar oksigen terlarutnya minim. Maka mereka mampu hidup di rawa-rawa, persawahan dan air dangkal. Hidupnya berkoloni di perairan yang tenang, yang umumnya memiliki pH 6,5—7,2 dan suhu air 24—30 derajat Celsius.Cupang ekor panjang, menurut catatan, amat dominan sampai 1990-an, sebelum budidaya yang dilakukan hobiis ikan cupang mampu menghasilkan jenis-jenis baru yang lebih cantik dan indah. Cupang hias generasi baru mempunyai ekor yang dihiasi tulang sirip yang menonjol.

Bentuknya ada yang seperti duri panjang membentuk seperti sisir atau lazim disebut serit. Ada pula yang menggelembung seperti balon-balon kecil.Sampai kini usaha budidaya ikan cupang masih terus berlangsung. Oleh sebab itu kemungkinan jenis-jenis baru bakal bermunculan. Buat penggemar, keberhasilan mendapatkan satu jenis baru yang mempunyai kelebihan dibandingkan dengan jenis sebelumnya adalah prestasi tersendiri. Cupang hias yang baik, secara umum, tubuhnya tidak cacat dan proporsional. Sirip-siripnya lebar dan panjangnya maksimal, rapi dan utuh. Begitu juga warna tubuhnya cemerlang dan bermental bagus.

Sirip yang rapi dan utuh itu akan membuat ikan ini tampil anggun saat sedang agresif. Faktor mental yang tidak mudah ciut menentukan juga apakah ia tergolong jenis yang baik. Sebab dengan kondisi ”terjaga dan siap menyerang” itu membuatnya tetap bergaya walau disandingkan atau dihadapkan dengan lainnya. Kriteria cupang hias yang lebih spesifik, ketika beberapa tahun lalu agak sulit didefinisikan. Menurut pakar, hal itu karena banyaknya variasi dari hasil persilangan yang gencar dilakukan oleh para hobiis belakangan ini. Namun karena kerap diadakan kontes maka kini ada pembagian kategori berdasarkan warna dan bentuk sirip.Menurut Irwan Sugandy, pakar cupang, ada kategori warna dasar (solid). Yang masuk golongan ini adalah cupang yang warna dan sirip-siripnya satu warna.

Misal biru, merah, dan hitam. Cupang kategori ini terbilang sempurna jika seluruh warna tubuh dan sirip sama, cemerlang dan rata. Ada juga kategori warna kombinasi. Golongan ini biasanya mempunyai warna tubuh dan sirip lebih dari satu warna. Cupang kombinasi yang terbagus jika memiliki komposisi warna yang harmonis, di samping juga tubuh dan siripnya. Kalau terdiri dari tiga macam warna, cupang itu disebut three colour.Kategori lain, tambah Irwan, adalah cupang maskot. Disebut maskot jika kepalanya putih dengan bercak-bercak merah. Warna tubuhnya putih atau keperak-perakan, dengan variasi bercak merah, biru, atau hijau. Sementara sirip-siripnya kombinasi merah putih; merah hijau; atau merah biru.

Ada juga kategori khusus, yakni cupang yang unik. Misalnya, yang ekornya terbelah (cagak) dan halfmoon. Cupang halfmoon, tergolong baru dikenal di kalangan hobiis Indonesia. Asal-usulnya ada yang menyebutkan dari Amerika Serikat, namun ada pula yang mengatakan dari Prancis. Tipe cupang ini siripnya lebar dan mempunyai bentuk yang saling berimpit antara sirip ekor, punggung, dan perut. Tepiannya tidak berserit, namun bergerigi. ”Penampilannya bertambah anggun jika ia sedang dalam keadaan marah. Dia akan mengembangkan siripnya yang bak setengah bulan itu,” ujar Irwan. Wow…. (SH/gatot irawan)

japanese bonsai

Japanese Bonsai

When bonsai is referred to being Japanese, it is correct. Bonsai is the literal Japanese translation of tree in a pot. Bonsai have been developing mostly in Japan at the beginning of its existence. It as now grown and mature into a complex art form, and like all art form, certain guidelines exist to conform yourself to the art and achieve the natural perfection of a miniature tree. With that being said, Bonsai art and the Japanese art form it represent, is not the only horticultural art involving tree and some form of container. Others tree art form exists, such as:
Penjing

The penjing art is the Chinese bonsai counterpart of the Japanese bonsai. Rather then striving for natural perfection in your tree, Chinese penjing as been more develop to represent natural landscape involving trees. The name, much like bonsai, is representative of the art. Penjing will be translated to tray scenery. Penjing will classify itself into one of three categories depending on what their representation is. These categories are Tree Penjing, Landscape Penjing, and Water and Land Penjing. The use of rockeries is most common with penjing as it help portray the natural habitat of a tree. Chinese Penjing is the birth of bonsai as it was introduce in Japan in the 7-9th century. At least 12 common styles are used in the penjing artform.

Vietnamese Bonsai


Vietnamese Bonsai are different then the Japanese bonsai tree as they are often much bigger in size, the basic styles are to be compared to the Chinese penjing. The basic styles are also less rigourous then the Japanese traditional styles. The term to describe Vietnamese bonsai is "Cay canh" which in Vietnamese means "tree and landscape. The climate in Vietnam is mostly tropical, so the common tree species used as bonsai are also tropical bonsai trees. Ficus is a very popular subject, especially the ficus virens.

Korean Bonsai

The Korean bonsai art form was also introduced by Chinese penjing appreciation. Once again, the Korean will excel in bonsai with their native species, such as the Korean Hornbeam. Old Korean literature was referring to the Korean landscape as a bonsai. The Korean forest and climate are ideal for bonsai growing and mature trees such as maple and korean hornbeam can be collected in nature.


Garden bonsai


The garden bonsai term is often used to designate tree in pot of big size compare to regular bonsai size. The term bonsai garden is often used to designate your bonsai display area. Bonsai enthusiast will often re arrange their backyard in a more Asiatic way which makes a beautiful garden with bonsai, ponds and decks.

A garden bonsai could be a large tree in a pot, large enough not to be considered a bonsai but small enough to be in a pot. These are a nice addition to a deck and people that do not perform the complete art of bonsai, will have a tree in a pot to accentuate the decoration of their backyard. Japanese maples are often used in such display as some cultivar will remain relatively small.
Ada kesalahan di dalam gadget ini

follower